
JAKARTA, 19 JANUARI 2026 – Perjalanan sebuah brand fesyen lokal kerap berangkat dari mimpi sederhana. Hal itu pula yang melandasi lahirnya Chocochips, label busana perempuan yang dirintis Lita Gunawan sejak usia 24 tahun.
Berawal dari sebuah toko kecil dan keikutsertaan dalam berbagai bazar, Chocochips tumbuh perlahan menjadi brand yang dikenal dengan gaya simpel, nyaman, dan relevan bagi perempuan Indonesia.
Lita mengisahkan, ketertarikannya pada dunia fesyen telah muncul sejak lama. Namun, tantangan nyata baru terasa ketika ia mulai menjalankan usaha secara mandiri. Keterbatasan modal, pengelolaan produksi, hingga menjaga arus kas menjadi bagian dari fase awal yang membentuk karakter bisnisnya.
“Chocochips sudah berusia 18 tahun. Kami belajar bahwa bertahan bukan soal ukuran bisnis, tapi kemampuan beradaptasi dengan perubahan,” ujar Lita.
Respons positif pelanggan menjadi pendorong Chocochips membuka toko permanen di pusat perbelanjaan. Dalam waktu dua tahun, jaringan toko berkembang hingga mencapai 10 cabang. Namun, pertumbuhan ini juga menuntut sistem kerja yang lebih rapi.
Lita mulai membangun fondasi bisnis melalui penerapan standar operasional, pembagian peran yang jelas, serta budaya komunikasi terbuka di dalam tim.
Di tengah persaingan industri fesyen yang dinamis, Chocochips memilih fokus pada kualitas produk dan kedekatan dengan konsumen. Proses produksi dilakukan dengan riset yang matang, mulai dari pemilihan material lokal, penyesuaian pola dengan postur konsumen, hingga kontrol ketahanan produk agar tetap nyaman digunakan dalam jangka panjang.
“Kami ingin produk yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga benar-benar dipakai dan bertahan lama,” kata Lita.
Memasuki era digital, perubahan perilaku belanja menjadi tantangan sekaligus peluang. Chocochips mulai memperluas kehadirannya ke ranah daring, termasuk memanfaatkan platform e-commerce sebagai kanal distribusi tambahan.
Transformasi ini memungkinkan brand yang sebelumnya kuat di penjualan luring menjangkau konsumen lintas kota, bahkan luar negeri.
Menurut Lita, kehadiran di platform digital memberi akses pada data dan umpan balik pelanggan secara real time. “Kami bisa membaca kebutuhan pasar lebih cepat dan menyesuaikan koleksi dengan lebih tepat,” ujarnya.
Seiring pertumbuhan tersebut, kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja pun meningkat. Chocochips juga mulai mengoptimalkan pendekatan interaktif seperti siaran langsung dan kolaborasi afiliasi sebagai cara membangun hubungan yang lebih personal dengan pelanggan.
Kini, setelah hampir dua dekade berjalan, Chocochips menjadi contoh bagaimana brand lokal dapat bertahan melalui konsistensi nilai, kesiapan beradaptasi, serta pengelolaan bisnis yang semakin matang.
Di balik koleksi yang terus berganti, perjalanan Chocochips mencerminkan proses panjang sebuah usaha kecil yang tumbuh bersama perubahan zaman—tanpa kehilangan identitas awalnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google NEws