
SURABAYA, 15 JANUARI 2026 – Pengolahan sampah organik yang dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terbukti memberi dampak signifikan terhadap efisiensi anggaran daerah.
Keberadaan 27 rumah kompos mampu menghemat biaya pengangkutan sampah hingga Rp6,73 miliar per tahun, sekaligus menekan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Dedik Irianto mengungkapkan, timbulan sampah di Kota Pahlawan mencapai sekitar 1.800 ton per hari, terdiri dari sampah organik dan anorganik.
Besarnya volume tersebut mendorong Pemkot Surabaya memperkuat pengelolaan sampah dari hulu, tidak hanya bergantung pada pengolahan di TPA.
“Jumlah timbulan sampah di Surabaya sekitar 1.800 ton setiap hari. Karena itu, kami memperkuat penanganan dari hulu melalui rumah kompos dan bank sampah,” ujar Dedik.
Khusus sampah organik, DLH Surabaya mengoperasikan 27 rumah kompos yang tersebar di berbagai wilayah kota dengan total kapasitas pengolahan mencapai 95,17 ton per hari. Bahan baku utama berasal dari hasil perantingan pohon, pohon tumbang, serta sampah sayuran dari pasar tradisional.
“Limbah organik tersebut kami olah menjadi kompos, sehingga bisa mengurangi volume sampah yang harus dibuang,” jelasnya.
Dedik menyebut, manfaat pengolahan sampah organik tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah ke TPA Benowo, tetapi juga memberikan efisiensi anggaran. Kompos hasil produksi rumah kompos dimanfaatkan untuk kebutuhan pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya, sehingga mengurangi belanja pupuk dari pihak luar.
“Kita bisa memanfaatkan kompos produksi sendiri. Selain mengurangi sampah ke TPA, juga menekan belanja DLH untuk pengadaan kompos,” katanya.
Selain penghematan biaya pengangkutan sebesar Rp6,73 miliar per tahun, DLH Surabaya mencatat pengolahan sampah organik melalui rumah kompos juga mampu menghemat biaya pengolahan di TPA Benowo hingga Rp7,36 miliar per tahun.
Setiap hari, volume bahan yang masuk ke rumah kompos mencapai lebih dari 100 ton, terdiri dari sekitar 90,41 ton limbah hasil perantingan pohon dan 10,14 ton sampah pasar.
Di sisi lain, pengelolaan sampah anorganik dilakukan melalui Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R. Saat ini, terdapat 12 TPS 3R di berbagai wilayah Surabaya dengan kapasitas bervariasi, mulai dari 10 hingga 20 ton per hari.
“TPS 3R mampu mengurangi sekitar 50 persen volume sampah. Jika kapasitasnya 10 ton, residu yang tersisa hanya sekitar 5 ton,” ungkap Dedik.
TPS 3R menangani beragam sampah anorganik seperti plastik, botol, logam, kaca, kayu, kertas, hingga karton, termasuk sampah spesifik seperti baterai bekas, lampu, dan kaleng aerosol.
Melalui penguatan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, Pemkot Surabaya terus mendorong sistem pengelolaan sampah yang efisien, berkelanjutan, dan ramah anggaran, sekaligus mengurangi ketergantungan pada TPA Benowo.